Wanita itu cantik,
seulas senyumnya membuat segala masalahku sirna, tatapannya menyiratkan kata-kata 'tenanglah, tak ada sesuatu yang akan memberatkanmu hingga kamu tak sanggup memapahnya, bersabarlah, lakukan sepenuh hati apa yang harus kamu kerjakan, sapu perlahan semua ganjalan yang menghalangi jalanmu.'
Wanita itu cerdas,
ia jawaban dari segala risauku, pertanyaan-pertanyaanku terjawab, meski tak selalu sesuai pasti, namun dapat diterima dengan akali, ia bisa memperbaiki apa saja, seperti magis, sesuatu yang aku cari setengah mati pun dengan mudahnya ditemukannya.
Wanita itu tegar,
kehilangan matahari kala fajarnya tak membuat ia jatuh terpuruk, segera saja ia bangkit, dengan segala kepercayaannya ia yakin bisa membesarkanku seorang diri. Tak tampak raut kesedihan di wajahnya, ketika aku mengkhawatirkannya pun dengan jenaka ia berkata selalu baik-baik saja.
Wanita itu seseorang yang sangat aku kasihi sepanjang hidupku,
ia tahu kecemasanku, ia paham kekecewaanku, ia tahu cara memperlakukanku ketika aku menangis merengek, ia mengajarkan aku arti kemandirian, keteguhan hati, ia mengingatkanku bahwa sesuatu yang datang suatu saat pasti akan pergi, tak ada keabadian, kecuali Dia, maka bersiaplah untuk semua yang akan terjadi nanti, dan selalu dekatlah dengan Tuhanmu.
Wanita itu begitu menyayangiku,
dalam malamku ia pastikan aku terlelap damai, kemudian ia tengadahkan tangannya panjatkan doa untukku, ia biarkan aku terluka, sebentar saja, kemudian memberiku pelajaran bahwa kita harus bisa menjaga diri sendiri, jangan sampai terjerembab lagi dalam satu kesalahan yang sama.
Wanita itu no.1 di dunia ini,
tak ada yang bisa menggantikan kehadirannya bagi hari-hariku, tak ada yang menandingi hangat peluknya, aku akan membahagiakan wanita itu dengan segenap mampuku, aku akan melindunginya seperti halnya ia selalu melindungiku.
Wanita itu, ya, sudah pasti kau tahu, ia ibuku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar