-oleh : Saini K.M-
Bagai pohon ranggas pada usia dua delapan
Guru Acil tegar berdiri di depan kelas
Dengan sabuknya ia kendalikan perut lapar
Yang sudah menggerutu pada pukul sebelas
"Anak-anak, buka mata dan lihat dunia!"
Serunya pada para siswa yang belajar
Duduk di kelas berlantai tanah dan beratap ijuk
"Anak-anak, ku ajar kalian menulis masa depanmu"
Di sudut Indonesia yang tak terlukis dalam peta
Guru Acil membariskan siswanya menghadap matahari
Berjalan di tanah berbatu dan tersandung-sandung
Bagai tentara ia nyanyikan "Halo-halo Bandung"
-1985-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar